Pembibitan Media Kultur Jamur Budidaya

Memulai bisnis budidaya jamur sama seperti usaha budidaya pertanian lainnya, dimulai dengan pembibitan. Anda mungkin bertanya-tanya seperti apa bentuk dari bibit jamur, apakah berupa biji atau dalam bentuk jamur tetapi berukuran kecil…

Akan saya ceritakan sedikit, pembibitan jamur budidaya seperti jamur tiram, jamur kuping dan jamur jenis lain dimulai dari pembuatan bibit kultur. Bibit ini dibuat dalam konsisi aseptik atau steril yang bebas dari kontaminasi alias tidak terdapat bakteri atau cendawan jenis lain yang tumbuh.

Jamur yang ingin dijadikan bibit diambil dari lapang atau alam kemudian bagian tubuhnya seperti batang, tudung atau lamelanya yang mengandung spora diambil sedikit dan diletakkan ke dalam media tumbuh. proses ini disebut isolasi.

Pada media ini bagian jamur tersebut akan beregenerasi atau berkembang sel-selnya membentuk hifa-hifa / benang-benang halus. Hifa akan menebal sehingga membentuk misellium berwarna putih. Tidak semua misellium jamur berwarna putih, tetapi pada umumnya misellium jamur budidaya berwarna putih.

Media tanam yang umum digunakan dalam isolasi jamur yaitu media PDA (Potato Dextrose Agar). Bentuk media ini seperti agar-agar makanan karena memang komposisinya terdiri dari agar. Selain media PDA proses isolasi biasa dipakai juga media MEA (Malt Extract Agar).

Tidak melulu media tersebut yang digunakan, anda bisa menggantinya dengan media kreasi anda sendiri karena inti dari media yaitu untuk menumbuhkan eksplan (bahan tanam). Seperti contohnya media PSA (Potato Sucrose Agar). Media PDA lebih banyak digunakan di skala laboratorium saint sedangkan media PSA digunakan secara teknis oleh para petani jamur budidaya.

Media PDA memiliki unsur dan kandungan haranya murni, banyaknya tepat dan steril. sedangkan media PSA tergantung dari cara membuat dan jenis kentang yang digunakan, sebab jenis kentang yang berbeda memiliki kandungan unsur yang berbeda pula. selain itu dipengaruhi oleh tempat kentang itu tumbuh dan cara budidayanya.

Perbedaan yang mencolok dari PDA dan PSA yaitu penggunaan gula. PDA menggunakan gula dextrose berantai tunggal (monosakarida) sedangkan PSA menggunakan gula sucrose (gula pasir) berantai ganda (disakarida).

Secara umum, media kultur jamur budidaya harus memiliki sifat:

  1. Mengandung zat hara yang mudah digunakan oleh jamur budidaya.
  2. Mempunyai tekanan osmosis dan tegangan permukaan
  3. pH sesuai dengan keinginan jamur / cendawan.
  4. Tidak mengandung zat-zat penghambat pertumbuhan
  5. Harus dalam keadaan steril sebelum digunakan

Berdasarkan syarat-syarat di atas, anda dapat berkreasi membuat media tanam untuk isolasi jamur budidaya. Penggunaan kentang dapat anda ganti dengan tomat, jagung, ubi kayu atau air kelapa. Sedangkan gulanya anda gunakan saja yang mudah didapat di pasaran dan harganya murah yaitu gula pasir.

Penggunaan gula perlu diperhatikan. penggunaan gula pasir yang berlebihan dapat membatasi / menghambat pertumbuhan jamur tiram. Sebagai contoh penggunaan gula pasir dalam jumlah banyak (sekitar 80%) digunakan dalam pengawetan makanan (manisan, sirup, dodol dan wajik) agar cendawan pembusuk tidak dapat tumbuh.

Setelah pembibitan di media kultur berhasil, kultur jamur budidaya tersebut kemudian disubkultur (pindah tanam) ke media baru berupa biji-bijian. Bibit ini sebagai biang atau master dari bibit selanjutnya yang akan digunakan sebagai bibit produksi. Menjawab pertanyaan di atas, bibit jamur bentuknya mirip seperti tempe, dikemas dalam kemasan botol atau plastik.

Akhir kata, bebaslah berkreasi dalam usaha jamur budidaya yang anda jalankan, tetapi anda tetap perlu perhitungan matang untuk percobaan, alokasi dana, dan resiko kegagalan. Selamat berkreasi membuat bibit unggul khas anda sendiri…

Posted on Mei 7, 2011, in Agribisnis. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Pembibitan Media Kultur Jamur Budidaya.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: