Jumlah Pemberian Bibit F2 pada Baglog

Budidaya jamur tiram tidak sama dengan budidaya jenis sayuran atau tanaman berklorofil lain. Jenis tanaman tingkat tinggi dibudidayakan dengan bibit hasil persemaian atau secara vegetatif dengan bagian tubuhnya…sedangkan budidaya jamur tiram dan jamur budidaya pada umumnya dengan misellium dan sedikit sekali menggunakan spora terutama di indonesia.

Anda tentu tidak asing lagi dengan tempe, makanan tradisional khas Indonesia yang terbuat dari kacang kedelai. Bentuk bibit jamur tiram, jamur konsumsi dan jamur budidaya yang lain menyerupai tempe tersebut. Umumnya bibit jamur terbuat dari biji-bijian dan ada pula yang dari serbuk kayu. Biji-bijian dan serbuk kayu tersebut dikatakan sebagai bibit apabila telah tumbuh misellium dari jamur yang dikehendaki dan keturunan kultur yang benar, misalkan bibit jamur tiram F2 (keturunan kedua).

Penjabaran di atas tentu memberi anda gambaran bagai mana bentuk dari bibit jamur. Lalu bagaimana cara menanam bibit tersebut? Penanaman tidak seperti budidaya tanaman berklorofil, penanaman dilakukan dalam kondisi aseptik (bebas penyakit) dalam ruangan, jumlah bibit yang ditanam (inokulasi) juga berbeda. Bibit jamur tiram diinokulasi berdasarkan volume atau berat bukan berdasarkan satuan jumlah karena sifatnya yang bulky.

Anda yang menggunakan bibit F2 dari biji-bijian mungkin dapat menggunakan acuan jumlah, misal 6 – 7 biji jagung per baglog. Lalu bagaimana jika bibit terbuat dari serbuk kayu, shorgum, millet atau dari gabah padi? apakah acuan jumlah masih berlaku? tentu akan sulit menghitung jumlah partikel gabah padi, millet terlebih partikel serbuk kayu…

Inokulasi bibit jamur budidaya akan lebih mudah jika menggunakan acuan volume, karena acuan beratpun dapat berbeda-beda. agar misellium jamur dapat bereaksi atau ‘nembak’ ke media tanam baglog produksi diperlukan bibit F2 yang cukup. Kami biasa menginokulasi bibit jamur pada baglog sebanyak 3 sudip / spatula, atau setara dengan 1 sendok makan. Biar mudah persentasenya yaitu kurang lebih 1% dari volume media baglog.

Volume pemberian bibit F2 ini diharapkan dapat bereaksi cepat dengan media tanam baglog, memperkecil kontaminasi (mempersempit ruang gerak kontaminan) dan memperkecil kegagalan (bibit mati). Sebagian petani mengatakan pemberian bibit ini terlalu boros, tapi jumlah ini cukup baik bila dilihat dari manfaatnya.

Namun, jangan anda melebihkan volume pemberian bibit F2 jamur tiram karena anda harus memperhitungkan biaya produksi dan efektifitasnya. Penggunaan bibit F2 lebih dengan jumlah tersebut tidak berbeda signifikan dengan pemberian bibit yang lebih banyak, oleh karena itu bersikap bijaklah dalam pemberian bibit jamur tiram.

Posted on Mei 7, 2011, in Agribisnis, Fasilitas Dan Sarana, Jenis Jamur, Teknik Budidaya and tagged . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Jumlah Pemberian Bibit F2 pada Baglog.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: