Urutan Pembibitan Jamur Budidaya

Penggunaan istilah terkadang membingungkan orang dalam berkomunikasi, tidak terkecuali dengan istilah pada pembibitan jamur. Bila anda melakukan pencarian di Google dengan kata kunci Bibit …Jamur, situs-situs produsen bibit jamur muncul dengan beberapa istilah yang sebenarnya adalah menggambarkan urutan keturunan bibit.

Setahu saya penggunaan istilah ini masih belum baku sehingga tidak sedikit petani jamur konsumsi atau berkhasiat obat yang “tertipu” karena bibit tidak sesuai dengan maksudnya. Sebagai contoh bibit master, bibit induk, bibit kultur. ketiga istilah itu digunakan untuk bibit unggul yang seperti apa, apakah jamur segar yang digunakan sebagai bahan kultur jaringan, atau hasil dari kultur jaringan bermedia PDA atau hasil dari keturunan PDA…

Belum lagi penggunaan istilah Fillum. Istilah ini menurut yang saya tahu berarti keturunan ke sekian. Dengan demikian ada yang menganggap bahwa keturunan dimulai dengan F1 dan induknya adalah jamur segar, berarti F1 adalah bibit kultur bermedia PDA. F2 hasil dari subkultur bibit bermedia PDA.

Bila ingin mempertahankan pendapat masing-masing produsen, jelas tidak akan menyelesaikan masalah, masing-masing akan beranggapan istilah miliknyalah yang benar, terkecuali ada standar penentuan baku oleh suatu perkumpulan petani jamur atau dari dinas pertanian sekalian. sedangkan saat ini yang saya ketahui standar itu belum ada.

Daripada saya ikut-ikutan menjejali istilah-istilah tersebut kepada anda, ada baiknya saya memberikan pengetahuan proses subkultur pembibitan yang P. D. Cahya Mandiri Maushroom lakukan saja. Istilah ini kami gunakan untuk mempermudah identifikasi bibit saja dan tidak bermaksud mengharuskan anda mengunakan istilah ini.

Pembibitan kami dimulai dari pengambilan “Bahan Induk” yaitu tubuh buah dari lapang atau tempat budidaya yang akan dibuat kultur jaringan. contohnya tubuh buah jamur tiram pada panen pertama yang bentuknya besar dan kokoh.

Bahan tersebut kemudian dikulturkan atau ditanam pada media PDA. Bibit yang dihasilkan pada proses ini biasa kami sebut “Bibit F0″ atau “Bibit Kultur”. Bibit ini rata-rata memiliki waktu inkubasi selama 7 – 10 hari.

Bibit F0 tersebut disubkultur kembali ke media full biji-bijian entah itu jagung atau shorgum atau millet. Bibit jenis ini biasa kami sebut “Bibit F1″ atau “Bibit Master”. Lamanya waktu inkubasi berkisar 3 – 4 minggu. Bibit ini yang biasanya diburu oleh produsen bibit yang belum bisa membuat bibit kultur.

Tingkatan selanjutnya yaitu “Bibit F2″ atau “Bibit Produksi” hasil subkultur dari bibit master. Nah, bibit ini yang sering saya jual ke petani jamur yang telah mandiri membuat baglog produksi, mungkin anda juga pernah memiliki bibit ini dari kami… :)

Kalau bibit tersebut di subkultur lagi akan jadi “F3″ tanpa embel-embel “bibit” hehehe… Keturunan yang satu ini sudah saya anggap sebagai bahan produksi jamur segar alias media tanam baglog dan tidak layak disebut bibit.

Sekarang Anda coba bayangkan penampilan bibit jamur yang beredar di pasaran, tapi bila saat ini di depan anda ada bibit jamur silahkan amati dan jawab pertanyaan ini:

ANDA BISA MEMBEDAKAN BIBIT F2 dan F3 atau F4 bila kemasan ketiganya sama-sama botol?? Anda tidak perlu menjawab karena solusinya hanya dengan membeli bibit dari sumber yang jelas dan dapat dipercaya.

Posted on Mei 6, 2011, in Jenis Jamur, Pelatihan, Teknik Budidaya and tagged . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Urutan Pembibitan Jamur Budidaya.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: